Saleema Institute

FOR DEVELOPMENT OF ISLAMIC ACCOUNTING AND AUDITING (SIDIAA)

"Konsultansi dan Training Akuntansi, Audit, Keuangan, Perbankan, Leadership, Kinerja dan Bisnis Syariah"
ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR....ALHAMDULILLAH KITA SUDAH BISA MEMASUKI TAHUN BARU HIJRIYAH 1439 H...SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH, 1 MUHARRAM 1439H, MARI KITA BERMUHASABAH APA YANG TELAH KITA LAKUKAN PADA TH 1438 H DAN MARI KITA NIATKAN UNTUK MENINGKATKAN AMAL USAHA DAN IBADAH KITA DI TAHUN 1439 H, SEHINGGA SEMAKIN MENINGKAT IMAN, TAQWA, AMAL SHALEH DEMI KEJAYAAN KITA DI DUNIA DAN AKHIRAT NANTI, AAMIIN YA RABBIL 'ALAMIIN..

Bab 1 ISLAM KAFFAH


 

MEMAHAMI AKUNTANSI  SYARIAH DI INDONESIA

 

Aplikasi pada Entitas Perbankan Syari’ah, Takaful,  Entitas Syariah lainnya dan Entitas Konvensional

 yang Melakukan Transaksi Syariah

 ( Disertai dengan Soal- Soal Latihan Essay dan Kasus untuk Memperdalam Pemahaman Materi )

 

  Disusun oleh

 DR. SLAMET WIYONO, Ak,MBA,SAS,CA

 Dosen Fakultas Ekonomi

 Universitas Trisakti  Jakarta

 Tujuan Pembelajaran Bab I

 Setelah mempelajari bab ini, maka diharapkan pembelajar dapat memahami dan mengetahui konsep –konsep tentang:

  1. Islam sebagai agama yang komprehensif
  2. Sistem ekonomi Islam
  3. Al Qur’an mengatur pembukuan
  4. Hukum Riba dalam Islam
  5. Latihan-latihan (selengkapnya pelajari di buku Memahami Akuntansi Syariah di Indonesia, ditulis oleh Slamet Wiyono dan Taufan Maulamin)

 

 BAB  I

 ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG KAFFAH

 A.   Islam sebagai Agama yang Komprehensif

 Islam sebagai agama samawi yang terakhir, yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia, mempunyai karakteristik yang banyak berbeda dengan agamawi sebelumnya yang diturunkan kepada Rasul-Rasul terdahulu, seperti yang diturunkan kepada Adam AS, Musa AS, Daud AS, Isa AS, dan lainnya. Sebagai agama terakhir, maka Islam telah mengatur dari yang bersifat filosofis, sistemik, maupun sampai pada aturan praktis, seperti ketentuan zakat, waris, nikah, dll. Hal ini dapat dipahami secara akal sehat, sebagai agama terakhir maka Allah SWT harus membuat ketentuan yang lengkap dan menyeluruh untuk mengatur kehidupan manusia agar hidupnya nanti bahagia dunia dan akhirat.  Periode menjelang akhir zaman,  kehidupan manusia semakin komplek dan rumit sehingga Allah SWT pastilah sudah mengetahui akan kebutuhan manusia agar selamat hidupnya di dunia dan di akhirat nanti. Berbeda dengan agama yang turun sebelumnya,  ia diturunkan sesuai dengan zamannya yang belum begitu rumit dan komplek seperti kehidupan di akhir zaman, sehingga ketentuan-ketentuan dalam kitab suci juga belum sesempurna dengan kitab suci terakhir yaitu Al Qur’anul Karim. Dalam  Al Qur’an sudah lengkap dan menyeluruh mengatur kehidupan manusia yang terkait dengan hubungan manusia dengan Allah ( hablumminAllah ) dan hubungan manusia dengan manusia lain dan makhluk ciptaan Allah lainnya (hablumminannas).  Al Qur’an , sebagai wahyu Allah kepada nabi besar Muhammad SAW, telah dipersiapkan untuk mengatur kehidupan manusia yang menjangkau tidak saja sampai pada akhir zaman (kiyamat) tetapi lebih jauh dari itu, yaitu sampai menuju kehidupan kekal abadi ( akhirat).  

     Walaupan demikian, dewasa ini masih ada, kalau tidak dikatakan banyak yang berpendapat dan beranggapan bahwa Islam adalah agama yang hanya mengatur bagaimana umat Islam beribadah kepada Tuhannya saja, yaitu hanya urusan sholat belaka. Bahkan, yang lebih memojokkan lagi bahwa Islam adalah penghambat kemajuan pembangunan.Yang jelas, ini adalah salah satu bentuk ketidak tahuan dan kesalah pahaman tentang memahami Islam secara menyeluruh.  Seharusnya, sebelum mereka berpendapat terlebih dahulu pelajari secara objektif dan netral, tidak berdasar prasangka, kecurigaa, dan ketakutan; dengan demikian pendapat mereka objektif berdasarkan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak jarang para peneliti non-muslim yang meneliti tentang Al Qur’an secara objektif, akhirnya berkesimpulan bahwa Al Qur’an adalah wahyu dari Tuhan Yang Maha Benar, yang isinya tidak ada yang salah, yang ada adalah banyak ayat yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikir manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai saat ini. Salah satunya adalah kisah mengenai Isra’ dan Mi’raj nabi besar Muhammad SAW, perjalanan nabi dari Makkah ke masjidil Aqsha langsung naik menghadap Allah sampai ke ‘sidratul muntaha’ hanya dalam waktu satu malam, yang jaraknya bila diukur dengan perjalanan manusia biasa adalah lebih dari ribuan tahun cahaya. Kisah Isra’ dan Mi’raj ini sampai sekarang belum ada manusia lain yang bisa melakukannya setara dengan perjalanan nabi tersebut. Masih banyak contoh ayat Al Qur’an yang belum bisa dipahami oleh akal manusia dan itu bukan suatu kesalahan Al Qur’an, tetap sebagai kebenaran Allah SWT, hanya manusia terbatas kemampuan untuk memahaminya.

 Di samping itu, pendapat orang banyak yang didasarkan pada kepentingan, seperti kepentingan politik, ekonomi, sehingga tidak bisa berpendapat secara netral sehingga bisa timbul tuduhan bahwa Al Qur’an sudah tidak sesuai dengan zaman, penghambat kemajuan ekonomi, bahkan ada yang berpendapat Islam sebagai pengambat kreatifitas manusia. Itulah pendapat yang didorong oleh hawa nafsu syaithan, angkara murka, kecongkakan, hedonisme, dan pemujaan terhadap kepuasan materialis. Jadi, sesungguhnya Al Qur’an atau Islam tidak seperti yang mereka gambarkan dan sangkakan. Islam adalah agama yang lengkap dan berlaku universal seluruh alam semesta.

       Islam sebagai agama dan pandangan hidup yang komprehensif atau lengkap, menyeluruh (kafah) dapat ditunjukkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang apabila dikelompokkan akan mengatur  diantaranya, tentang hal-hal berikut ini (Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, 2001, dalam Wiyono, 2006).

 Aqidah ( masalah ke Tuhanan dalam Islam ), yaitu

 1)    iman  kepada Allah SWT;

 2)    beriman  kepada rububiyah Allah terhadap segala hal;

 3)    beriman kepada ke Tuhanan Allah;

 4)    beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya;

 5)    beriman kepada para malaikat;

 6)    beriman kepada kitab-kitab Allah;

 7)    beriman kepada Al-Qur’anulkarim;

 8)    beriman kepada rosul-rosul;

 9)    beriman kepada risalah Muhammad SAW;

 10) beriman kepada hari akhir;

 11) beriman kepada siksa kubur dan kenikmatannya;

 12) beriman kepada qadha’ dan qadar;

 13) tauhid ibadah;

 14) al-wasilah (perantaraan);

 15) wali-wali Allah beserta karomah-karomah mereka dan wali-wali syetan beserta kesesatan-kesesatan mereka;

 16) beriman kepada kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar dan kode etiknya;

 17) beriman kepada kewajiban mencintai  sahabat-sahabat Rosulullah, keutamaan mereka, hormat pada imam-imam Islam, dan taat kepada pemimpin kaum muslimin.

 

  1. Etika, yang dikelompokkan menjadi

 1)    etika niat;

 2)    etika terhadap Allah SWT;

 3)    etika terhadap Al Qur’an;

 4)    etika terhadap Rasulullah SAW;

 5)    etika terhadap diri sendiri;

 6)    etika terhadap manusia;

 7)    etika ukhuwah karena Allah, mencintai karena-Nya, dan benci karena-Nya;

 8)    etika duduk dan ruang pertemuan;

 9)    etika makan dan minum;

 10) etika bertamu;

 11) etika bepergian;

 12) etika berpakaian;

 13) etika sifat-sifat fitrah;

 14) etika tidur

  

  1. Akhlaq, yang dikelompokkan menjadi

 1)    akhlak yang baik;

 2)    akhlak sabar dan bertahan terhadap gangguan;

 3)    akhlak bertawakal kepada Allah SWT dan percaya diri;

 4)    itsar dan cinta kebaikan;

 5)    akhlak adil dan pertengahan;

 6)    akhlak penyayang;

 7)    akhlak berbuat baik;

 8)    akhlak benar;

 9)    akhlak dermawan;

 10) akhlak tawadlu’ dan  keburukan sombong;

 

11) akhlak-akhlak tercela.

  

  1. Ibadah, meliputi

 1)    thaharah (bersuci);

 2)    etika buang air;

 3)    wudlu;

 4)    mandi;

 5)    tayammum;

 6)    mengusap atas sepatu dan pembalut luka;

 7)    hukum haid dan nifas;

 8)    shalat;

 9)    hukum-hukum sekitar jenazah;

 10) zakat;

 11) puasa;

 12) haji dan umrah;

 13) mengunjungi masjid Nabawi  dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW di makamnya;

 14) hewan kurban dan aqiqah.

  

  1. Muamalah, yang meliputi

 1)    jihad;

 2)    jual-beli;

 3)    beberapa akad;

 4)    beberapa hukum;

 5)    nikah, talak, ruju’, khulu’, li’an, Ila’, dhihar, iddah, nafkah, dan hadhanah;

 6)    warisan dan hukum-hukumnya;

 7)    sumpah dan nazar;

 8)    dzakat, shaid, tha’am dan syarab;

 9)    jinayat-jinayat dan hukum-hukumnya;

 10) had-had;

 11) hukum-hukum qadha’ dan syahadat (kesaksian);

 12) ar-roqiq.

 

Disamping Islam mengatur 5 (lima) kelompok di atas, Islam juga memberikan dasar-dasar pengaturan tentang politik-kenegaraan, ekonomi,  perdagangan dan keuangan, keilmuan, teknologi, dan lainnya yang pengembangannya di bawah kelompok muamalah. Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kelengkapan Islam, gambar 1  dan 2  dapat membantu memperjelas.

 

 Gambar 1

 ISLAM  AS A COMPREHENSIVE WAY OF LIFE (maaf tidak dapat diupload)

  ___________

 Sumber: Wiyono, Slamet, 2006, Cara Mudah Memahami Akuntansi  Perbankan Syariah, Grasindo, halaman 4.

  Cukup jelas di sini bahwa pilar Islam adalah aqidah, syariah, dan akhlaqAqidah sebagai landasan keimanan muslim (tauhid) yang menjiwai syariah (hukum-hukum Islam) dan aturan-aturan mengenai moralitas umat (akhlaq). Syariah mendasari muamalah dan ibadah. Muamalah adalah kegiatan umat yang menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan binatang, tumbuh-tumbuhan, bumi, laut, udara, dan makhluq Allah lainnya.

 Selain itu, ibadah (dalam artian sempit) adalah kegiatan ummat Islam yang menyangkut hubungan manusia  sebagai makhluk dengan  Allah sebagai Al chalik  (Sang Pencipta). Dalam pengertian yang luas, ibadah mencakup muamalah dan ibadah (sempit),  karena dalam Islam  segala sesuatu kegiatan yang dimulai dengan membaca basmallah akan bernilai ibadah di sisi Allah. 

 Dalam muamalah ini diatur mengenai hak-hak khusus dan hak-hak publik. Hak khusus terdiri dari hukum kriminal dan hukum sipil, sementara hak-hak publik terdiri dari urusan-urusan internal dan eksternal. Urusan eksternal menyangkut hubungan internasional, sedangkan urusan internal akan mencakup bidang administrasi,  ekonomi, dan konstituensi. Dalam bidang ekonomi akan melahirkan kegiatan-kegiatan keuangan dengan kelembagaan seperti leasing (sewa guna usaha), asuransi, perbankan, mortgage, dan venture capital. Semua hubungan antar manusia ini diatur dengan Syariah Islamiyah (hukum-hukum Islam). Sistem ekonomi yang diatur dengan menggunakan Syariah Islamiyah lazim disebut sebagai Sistem Ekonomi Syariah (Ekonomi Syariah).

 

          Gambar 2 akan memperjelas bahwa dalam bidang ekonomi, Islam telah memberikan  kerangka Sistem Ekonomi yang Islamik dan komprehensif.

 Islamic Economic System (Sistem Ekonomi Islamik)  terbagi menjadi 3 (tiga) sektor, yaitu Siyasi Sector (Sektor Publik ), Tijari Sector (Sektor Private/swasta ),  Ijtimai Sector (Sektor Kesejahteraan Sosial). Masing-masing sektor mempunyai fungsi yang jelas, lembaga yang mengatur serta hukum Islam (syariah) yang relevan telah ada, yaitu

 1).  Siyasi Sector  (Sektor Publik), berfungsi

 

  1. memelihara hukum, keadilan dan pertahanan;
  2. perencanaan dan pelaksanaan kebijakan ekonomi;
  3. pengelolaan kekayaan di bawah kepemilikan negara;
  4. intervensi ekonomi, jika diperlukan.

 Lembaga yang mengatur

 

  1. menteri dan departemen pemerintah, 
  2. badan pelaksana, dan
  3. perusahaan pemerintah.

 

Hukum Islam (Syariah )

 

  1. hukum perusahaan;
  2. hukum perdata;
  3. hukum tanah;
  4. hukum pertambangan;
  5. hukum pajak, dan lain-lain.

 

Gambar 2

 

BARE OUTLINE

 OF THE ISLAMIC ECONOMIC SYSTEM(maaf tidak dapat diupload)

 

Sumber: Sumber: Wiyono, Slamet, 2006, Cara Mudah Memahami Akuntansi  Perbankan Syariah, Grasindo, halaman 7.

  

2) Tijari Sector ( sektor swasta )

       Beberapa fungsi utama

 

  1. menciptakan kekayaan / kemakmuran;
  2. kegiatan ekonomi seperti produksi, konsumsi, dan distribusi.

 

      Lembaga yang mengelola

 

  1. operator pemilik;
  2. sharikah ( persekutuan, perusahaan join modal,  masyarakat  koperasi ).

          Hukum Islam ( Syariah ) yang sesuai yaitu hukum Fiqh al – Muamalat

 

  1.     al-Mudharabah,
  2.     al-Musharakah,
  3.    al-Bai’ Al-Murabahah,
  4.     al-Bai’ Bithaman Ajil,
  5.     al-Ijarah,
  6.    al-Rahn, dan
  7.    al-Kafalah.

 

3).  Ijtimai Sector ( sektor kesejahteraan sosial )

        Fungsi utama sektor ini adalah  keamanan sosial islami (al – Takaful al-ijtimai)

       Lembaga yang mengelola

 

  1. Kesatuan usaha sektor publik, misalnya

 -       Bait al-Mal, dan

 -       Bait al-Zakat.

 Kesatuan usaha sektor swasta, misalnya

 -       organisasi sosial – kemasyarakatan (derma ), dan

 -       para individu masyarakat.

  

  Hukum Islam (Syariah)

 

      Beberapa hukum Ijtimai, yang meliputi  al-Zakah, al-Waqaf, al-Tarikah, al-

       Sadaqah,    al- Qard al-Hasan.

 

      Demikianlah gambaran dalam Sistem Ekonomi Islami, agama Islam memiliki dasar-dasar nilai dan instrumen untuk mengatur ekonomi umat manusia yang sesuai dengan kehendak Allah SWT sebagai pencipta manusia dan alam semesta beserta seluruh isinya agar ciptaan-Nya lestari dan berkembang bagi kehidupan manusia itu sendiri.

 

 B.   Islam sebagai Agama yang Universal

 Islam sebagai agama yang universal berarti aturan-aturan, penjelasan-penjelasan, perintah-perintah, larangan-larangan serta seruan/anjurannya berlaku untuk seluruh alam semesta beserta isinya, tak terkecuali pada seluruh manusia yang tidak terbatas pada ummat Islam dan sampai hari akhir (kiamat) nanti.  Allah SWT banyak menjelaskan tentang keuniversalan Islam dalam banyak ayat-Nya  di Al Qur’anulkarim. Di antara ayat–ayat tersebut dapat ditemukan pada  Surat Al Baqarah : 21,185,187,221, yang terjemahannya sebagai berikut: (Wiyono, 2006).

 

 Al- Baqarah:21

 Hai manusia! Sembahlah Tuhan yang menjadikan kamu dan orang-orang sebelum kamu supaya kamu menjadi bertaqwa”.

  Al-Baqarah:185

 “(Puasa itu) dalam bulan Ramadhan, bulan diturunkan Al Qur’an, menjadi petunjuk bagi manusia, memberi penjelasan  petunjuk-petunjuk  itu dan menjadi pemisah / pembeda (antara yang hak dan batil) …”.

 

Al- Baqarah:187

 “…Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia agar mereka bertaqwa.”

  

Al-Baqarah:221

 “… Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dan mematuhi semua perintah-perintah itu)”.

  Disamping itu, masih banyak lagi ayat yang menjelaskan tentang universalnya isi Al Qur’an sebagai kitab suci agama Islam. Misalnya, Surat An Nisaa’ : 1,58,79,170.   Berikut ini terjemahan ayat-ayat tersebut:

  An-Nisaa’:1

 Hai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu dari satu diri dan menjadikan daripadanya isterinya, lantas dikembangkan –Nya dari keduanya, wanita dan pria yang banyak sekali…”.

  An-Nisaa’:58

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan/melaksanakan amanah (pertanggungjawaban) terhadap orang-orang yang memberikan amanahitu. Dan apabila kamu menghukum antara manusia, lakukanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pelajaran yang amat baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

 

 An-Nissa’:79

 “…  Dan Kami mengutusmu menjadi rasul bagi seluruh manusia.  Cukuplah Allah menjadi saksi”.

  An-Nisaa’:170

 “Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Muhammad dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah. Itulah yang baik buatmu. Dan jika kamu kafir, maka sesungguhnya apa saja yang ada di ruang angkasa  dan di bumi kepunyaan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”.

  Masih banyak lagi ayat lain yang dapat menjelaskan tentang universalnya Al Qur’an dan Islam, misalnya  Surat Yunus:108, Al Isra’:89,  Ibrahim:52, An Nahl:44, Al Hajj:1, 49, Saba’:28,  Az Zumar:27 dan 41. Berdasarkan ayat-ayat tersebut maka agama Islam dengan Al Qur’an sebagai kitab sucinya tidak dapat dibantah lagi  sebagai agama yang universal yaitu  agama yang berlaku bagi seluruh umat manusia di bumi ini, bukan hanya untuk umat Islam saja. Ditegaskan lagi bahwa ayat-ayat Al Qur’an adalah firman-firman (ucapan-ucapan )  Allah SWT yang tertulis dalam kitab tersebut yang mutlak benar, karena Allah adalah Maha Benar sehingga mustahil salah firman-Nya.

 

 C.   Fungsi dan Tujuan Al-Qur’an  Diturunkan

      (sebagai Kitab Suci Agama yang Universal)

  Al Qur’an sebagai kumpulan firman-firaman Allah SWT, Tuhan pencipta  alam semesta, berisi tentang aturan-aturan (rules) yang berlaku bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya baik yang di langit maupun di bumi.  Tujuan Allah SWT menurunkan Al Qur’an tidak lain adalah untuk mengatur manusia dan ciptaan lainnya sertauntuk memberikan petunjuk dan rahmat bagi  kaum yang meyakini (Al Jatsiah:20), sehingga sesuai dengan maksud dan tujuan diturunkannya Al Qur’an kepada manusia melalui rosul-Nya, Al Qur’an mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan di dunia dan di akhirat nanti.

 

Fungsi-fungsi Al Qur’an

  

  1. a.      Al Qur’an sebagai pedoman hidup

Allah SWT  menjelaskan kegunaan Al Qur’an bagi kehidupan manusia sebagai pedoman hidupnya yang akan mengantar manusia ke kehidupan yang diridhoi-Nya, yaitu dalam Surat Al Jatsiah:20, yang terjemahnya,“ Al Qur’an ini pedoman bagi manusia. Petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.”

  b.   Al Qur’an sebagai rahmat alam semesta

  Dijelaskan dalam Surat Yunus:57, terjemahnya, “Hai manusia! Sesungguhnya  telah datang kepadamu (Al Qur’an yang menjadi) pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi (sifat-sifat jahat) dalam dada., petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

 

 c.      Al Qur’an sebagai cahaya petunjuk

  Dijelaskan dalam Surat Asy Syuura:52, terjemahnya, “Demikianlah Kami wahyukan kepada  engkau Al Qur’an dengan perintah Kami. Sebelumnya  engkau tidak mengetahui  apakah Al Qur’an  itu dan apa pulakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al Qur’an itu cahaya dan kami tunjuki dengan cahaya itu siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan  sesungguhnya engkau memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

 

 d.  Al Qur’an sebagai bimbingan dan peringatan

  Dijelaskan dalam Surat Kahfi:2 dan 4, terjemahnya, “(Al Qur’an suatu Kitab) yang memberikan bimbingan yang lurus . Memperingatkan azab yang berat dari Tuhan dan memberi berita gembira bagi orang-orang yang beriman yang beramal sholeh bahwa bagi mereka  pembalasan yang baik ( kebahagaan di dunia dan di akhirat)( Kahfi:2)”

  “Dan untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang berkata bahwa ‘Allah mempunyai anak’ “( Kahfi:4).

  e.  Al Qur’an sebagai penerangan

  Dijelaskan dalam Surat Ali Imran:138, Yaasin:69, terjemahnya, “Ini (kisah-kisah dalam Al Qur’an ) penerangan bagi seluruh  manusia. Dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”  

  f.    Al Qur’an sebagai pelajaran

  Dijelaskan dalam Surat Yunus:57, Al Haqqah:48, Al Muddatstsir:55, terjemahnya, “Hai manusia! Sesungguhnya  telah datang kepadamu (Al Qur’an yang menjadi) pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi (sifat-sifat jahat) dalam dada., petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. ( Yunus: 57 ).”

  “  Dan sesungguhnya  Al Qur’an itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa “( Al Haaqqah : 48).

  “ Maka barangsiapa yang menghendaki, tentu ia mengambil pelajaran darinya ( Al Qur’an)” Al Muddatstsir:55.

 

  1. g.  Al Qur’an sebagai pembeda

  Dijelaskan dalam Surat Al Baqarah:185, terjemahnya, “(Puasa itu) dalam bulan Ramadhan, bulan diturunkan Al Qur’an, menjadi petunjuk bagi manusia, memberi penjelasan  petunjuk-petunjuk  itu dan menjadi pemisah / pembeda (antara yang hak dan batil) …

  h.  Al Qur’an sebagai peringatan

  Dijelaskan dalam Surat  Fussilat:1-4,  Al Muddatstsir: 54, terjemahnya sebagai berikut.

  Surat Fussilat:1-4

  “ Haa Miim. (1).  (Al Qur’an ini) turun dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang(2). Kitab yang rapi( terang susunan) ayat-ayatnya. Al Qur’an dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui (3). Memberi berita gembira dan peringatan. Kebanyakan mereka ( orang- orang  musrik )  membelakang, tidak mau mendengarnya (4).

  Al-Muddatstsir:54

  “Sekali-kali bukanlah begitu. Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah peringatan”.

  

i.   Al-Qur’an sebagai pemberi kabar gembira

     Dijelaskan dalam Surat Fussilat:1-4, Surat An Nahl: 102, terjemahnya  sebagai berikut.

  Surat Fussilat:1-4

 

“ Haa Miim. (1).  (Al Qur’an ini) turun dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang(2). Kitab yang rapi( terang susunan) ayat-ayatnya. Al Qur’an dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui (3). Memberi berita gembira dan peringatan. Kebanyakan mereka ( orang- orang  musrik )  membelakang, tidak mau mendengarnya (4).

 

An-Nahl:102

  “Katakanlah, Ruhul Kudus (Jibril)  yang menurunkan Al Qur’an  itu dari Tuhanmu dengan benar (sempurna dan penuh hikmah) untuk memantapkan hati orang-orang yang beriman. Petunjuk dan khabar  gembira bagi orang-orang mukmin.”

  j.   Al Qur’an sebagai penjelas segala sesuatu

  Dijelaskan dalam Surat An Nahl:89

  “… Dan Kami turunkan kepadamu  kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan sesuatu, petunjuk dan rahmat  bagi orang-orang  muslim (orang-orang yang mentaati Allah ).”

  k.  Al Qur’an sebagai hukum, dijelaskan dalam Surat Ar Ra’d:37, terjemahnya, “ …  Demikianlah Kami turunkan Al Qur’an ( menerangkan hukum-hukum yang lengkap ) dalam bahasa Arab.  Jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah engkau mengetahui, maka tidaklah ada pelindung dan pemeliharaanmu  (dari  siksaan ) Allah.“

  l.       Al Qur’an sebagai obat penyakit jiwa, dijelaskan dalam Surat  Yunus:57 terjemahnya, “Hai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu (Al Qur’an yang menjadi) pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh  bagi (sifat-sifat jahat)  dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang  yang beriman”.

  m.  Al Qur’an sebagai pedoman pembukuan, dijelaskan dalam Surat Al Baqarah, ayat 282-283, yang terjemahnya, ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah (seperti berjual beli, berhutang piutang, atau sewa menyewa dsb.) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya (membukukannya). Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkanNya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu “mengimlakkan”/membacakannya (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari pada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka di panggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu),kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan diantara kamu, maka tak dosa bagimu, (jika) kamu tidak menuliskannya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan kepada Allah; Allah mengajarkanmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

  Ayat ini dilanjutkan dengan ayat 283, yang terjemahanya, “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya maka sesungguhnya ia adalah orang ynag berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

      Jadi, dengan beberapa ayat yang dikemukakan di atas jelas bagi kita bahwa Al- Qur’an diturunkan mempunyai fungsi universal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia di bumi ini. Kita dapat mengambil hikmah dari Al Qur’an  yang luar biasa, karena Al Qur’an diturunkan untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam di mana di dalamnya kita dapat mengambil banyak pelajaran, petunjuk, penjelasan, peringatan, bahkan dapat memanfaatkan untuk pengobatan penyakit jiwa. Dengan kata lain,  dalam rangka mengarungi kehidupan dunia ini manusia telah disediakan berbagai informasi penting dari Al Qur’an yang akan menunjukkan, mengajari, menjelaskan, memperingatkan apa yang manusia lakukan dan pikirkan, termasuk juga dalam hal bermuamalah dan pembukuannya.

 

===============================================================================================================================

 

(Untuk lengkapnya, silahkan dibaca di buku MEMAHAMI AKUNTANSI SYARIAH DI INDONESIA, Oleh Slamet Wiyono dan Taufan Maulamin)

 

Kami telah menerbitkan buku akuntansi syariah dengan judul "MEMAHAMI AKUNTANSI SYARIAH DI INDONESIA", yang berisi 11 bab dengan lampiran Laporan Keuangan Bank Syariah dan Akuntansi untuk Asuransi Syariah. Bagi Anda yang membutuhkan buku tersebut, kami dapat kirimkan ke alamat Anda, dengan harga per exemplar Rp 90.000,- ditambah Ongkos Kirim sesuai alamat Anda. Pembayaran ditransfer lewat rekening Bank Syariah Mandiri, KK Universitas Trisakti, nomor: 131 700 9861, atas nama: Slamet, Drs, Ak, MBA.

Untuk pemesanan buku, hubungi kami di no. 081380088158; 081285577937; email: slamet.wiy@gmail.com

 Manajemen Website.