Saleema Institute

FOR DEVELOPMENT OF ISLAMIC ACCOUNTING AND AUDITING (SIDIAA)

"Konsultansi dan Training Akuntansi, Audit, Keuangan, Perbankan, Leadership, Kinerja dan Bisnis Syariah"
ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR....ALHAMDULILLAH KITA SUDAH BISA MEMASUKI TAHUN BARU HIJRIYAH 1439 H...SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH, 1 MUHARRAM 1439H, MARI KITA BERMUHASABAH APA YANG TELAH KITA LAKUKAN PADA TH 1438 H DAN MARI KITA NIATKAN UNTUK MENINGKATKAN AMAL USAHA DAN IBADAH KITA DI TAHUN 1439 H, SEHINGGA SEMAKIN MENINGKAT IMAN, TAQWA, AMAL SHALEH DEMI KEJAYAAN KITA DI DUNIA DAN AKHIRAT NANTI, AAMIIN YA RABBIL 'ALAMIIN..

Bab 3 BAGI HASIL BANK SYARIAH


BAB III

PERHITUNGAN BAGI HASIL

(APLIKASI PADA BANK SYARIAH)

  

A.    PENGANTAR

                 Terdapat perbedaan yang mendasar antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya yaitu dengan tidak diterapkannya bunga sebagai pranata beroperasinya sistem ekonomi tersebut. Dalam sistem ekonomi Islam,  bunga dapat dinyatakan sebagai riba yang  “haram” hukumnya menurut syariah Islamiyah.  Sebagai gantinya, sistem ekonomi Islam menggantinya dengan pranata “bagi hasil” yang dihalalkan oleh syariah Islamiyah berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadist.  Dalam  praktiknya,  ketentuan bagi hasil  usaha harus ditentukan di muka atau pada awal akad /kontrak usaha disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat dalam akad.  Porsi bagi hasil biasanya ditentukan dengan suatu perbandingan, misalnya 40 : 60 yang berarti  bahwa atas hasil usaha yang dijalankan oleh mitra usaha  akan didistribusikan sebesar 40% kepada pemilik dana/investor (shahibul maal) dan sebesar 60% didistribusikan kepada pengelola dana (mudharib).

            Dalam praktiknya, mekanisme perhitungan bagi hasil dapat didasarkan pada dua cara  profit sharing (bagi laba) dan revenue sharing (bagi pendapatan), yakni sebagai berikut.

  1. Profit sharing (bagi laba).

      Perhitungan bagi hasil menurut profit sharing adalah perhitungan bagi hasil yang mendasarkan pada laba dari pengelola dana, yaitu pendapatan usaha dikurangi dengan beban usaha  untuk mendapatkan pendapatan usaha tersebut. Misal, pendapatan usaha Rp 1000,00 dan beban-beban usaha untuk mendapatkan pendapatan tersebut Rp700,00 maka profit/laba adalah Rp300,00 ( Rp1000,00 -  Rp700,00).

  1. Revenue sharing (bagi pendapatan).

       Perhitungan bagi hasil menurut revenue sharing adalah perhitungan bagi hasil yang mendasarkan pada revenue (pendapatan) dari pengelola dana, yaitu pendapatan usaha sebelum dikurangi dengan beban usaha  untuk mendapatkan pendapatan usaha tersebut. Misal, pendapatan usaha Rp1000,00 dan beban-beban usaha untuk mendapatkan pendapatan tersebut Rp700,00 maka dasar untuk menentukan bagi hasil  adalah  Rp 1000,00 (tanpa harus dikurangi beban  Rp700,00).

     Aplikasi kedua dasar bagi hasil ini mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.  Pada profit sharing, semua pihak yang terlibat dalam akad akan mendapatkan bagi hasil sesuai dengan laba yang diperoleh atau bahkan tidak mendapatkan laba apabila pengelola dana mengalami kerugian yang normal. Disini unsur keadilan dalam berusaha betul-betul diterapkan. Apabila pengelola dana mendapatkan laba besar maka pemilik dana juga mendapatkan bagian besar, sedangkan kalau labanya kecil maka pemilik dana juga mendapatkan bagi hasil dalam jumlah yang kecil pula, jadi keadilan dalam berusaha betul-betul terwujud. Meskipun dalam profit sharing keadilan dapat diwujudkan, mungkin pemilik dana  (investor) tidak seratus persen setuju dengan mekanisme tersebut, manakala pengelola dana menderita kerugian normal sehingga pemilik dana tidak akan mendapatkan bagi hasil, sedangkan dalam bank konvensional deposan/pemilik dana akan selalu mendapatkan bunga walaupun bank mengalami kerugian. Kalau hanya dilihat dari aspek ekonomi saja maka profit sharing mempunyai kelemahan dibandingkan dengan prinsip bunga/konvensional yang notabene diharamkan. Untuk mengurangi risiko ditolaknya calon investor yang akan menginvestasikan dananya  maka pengelola dana dapat memberikan porsi bagi hasil lebih besar dibandingkan dengan porsi bagi hasil menurut revenue sharing.

 

     Untuk mengatasi ketidak setujuan prinsip profit sharing karena adanya kerugian bagi pemilik dana maka prinsip revenue sharing dapat diterapkan, yaitu bagi hasil yang didistribusikan kepada pemilik dana didasarkan pada revenue pengelola dana tanpa dikurangi dengan beban usaha untuk mendapatkan pendapatan.  Dalam revenue sharing, ke dua belah pihak akan selalu mendapatkan bagi hasil, karena bagi hasil dihitung dari pendapatan pengelola dana. Sepanjang pengelola dana memperoleh revenue maka pemilik dana akan mendapatkan distribusi bagi hasil. Ditinjau dari sisi pemilik dana maka prinsip ini menguntungkan, karena selama pengelola dana memperoleh revenue maka pemilik dana pasti mendapatkan bagi hasilnya. Tetapi, bagi pengelola dana hal ini dapat memberikan risiko bahwa suatu periode tertentu pengelola dana akan mengalami kerugian, karena bagi hasil yang diterimanya lebih kecil dari beban usaha untuk mendapatkan revenue tersebut. Disinilah ketidak adilan dapat dirasakan oleh pengelola dana karena terdapat risiko kerugian, sedangkan pemilik dana terbebas dari risiko kerugian.

Jalan keluar yang dapat dijalankan adalah pengelola dana harus menjalankan usaha dengan prinsip prudent atau usaha penuh kehati-hatian, sehingga dengan revenue sharing risiko kerugian dapat ditekan sekecil mungkin agar pemilik dana/investor tertarik menginvestasikan dananya pada usaha yang dikelola Bank Syariah.

Konsep bagi hasil ini banyak diterapkan pada lembaga bisnis syariah, terutama bank syariah. Disamping itu, lembaga bisnis yang yang lain juga menerapkan konsep bagi hasil tersebut, yaitu pada perusahaan Takaful atau asuransi yang menerapkan bagi hasil dalam investasi mudharabah atas dana yang dihimpun dari partnernya. Bahkan, di bidang pertanian konsep bagi hasil tersebut telah diterapkan sejak dahulu kala di masyarakat pertanian Indonesia. Jadi, bagi hasil merupakan konsep yang sudah diterima sejak dahulu dalam usaha yang syar’i.

 

B.     KONSEP BAGI HASIL

 

     Konsep bagi hasil berbeda sama sekali dengan konsep bunga yang diterapkan pada bank konvensional.  Dalam bank syariah, konsep bagi hasil, sebagai berikut. (IBI, 2003:265).

  1. Pemilik dana menginvestasikan dananya  melalui lembaga keuangan bank yang bertindak sebagai pengelola dana.
  1. Pengelola/bank syariah mengelola dana tersebut  di atas dalam sistem pool of fund, selanjutnya bank akan menginvestasikan dana tersebut ke dalam proyek/usaha yang layak dan menguntungkan serta memenuhi aspek syariah.
  2. Kedua belah pihak menandatangani akad yang berisi ruang lingkup kerja sama, nominal, nisbah, dan jangka waktu berlakunya kesepakatan tersebut.

 

B.1. Mekanisme Perhitungan Bagi Hasil

      Perhitungan bagi hasil dalam perbankan syariah  dapat mengikuti tata cara dan ketentuan, yaitu seperti berikut. (IBI,2003:265-266)

  1. Hitung saldo rata-rata harian (SRRH) sumber dana sesuai klasifikasi dana yang dimiliki, misalnya tabungan mudharabah dan investasi mudharabah.
  2. Hitung saldo  rata-rata tertimbang sumber dana yang telah tersalurkan ke dalam investasi dan produk-produk aset lainnya.
  3. Hitung total pendapatan yang diterima dalam periode berjalan, misalnya tahun 2003.
  4. Bandingkan antara jumlah sumber dana  dengan total dana yang telah disalurkan.
  5. Alokasikan total pendapatan kepada masing-masing klasifikasi dana yang dimiliki sesuai dengan  data saldo rata-rata tertimbang.
  6. Perhatikan nisbah sesuai kesepakatan yang tercantum dalam akad.
  7. Distribusikan bagi hasil sesuai nisbah kepada pemilik dana sesuai klasifikasi dana yang dimiliki.

Berikut ini rumus perhitungan saldo rata-rata harian (SRRH):

 
 

SRRH = TD / JH

 

 

 

 

Dimana : TD = total dana dalam periode berjalan

                JH  = jumlah hari dalam periode berjalan

 

Untuk memperjelas rumus perhitungan SRRH tersebut, di bawah ini diberikan contoh perhitungannya.

Tuan  Syahrul mempunyai tabungan/simpanan mudharabah di bank syariah dengan data transaksi seperti berikut:

 

Tanggal

Keterangan

Jumlah (Rp)

06  Januari 2008

Setoran Awal

2.000.000,00

12  Januari 2008

Setoran

8.000.000,00

20 Januari 2008

Setoran

5.000.000,00

27 Januari 2008

Penarikan

3.000.000,00

 Berikut ini perhitungan saldo rata-rata harian dana Tuan Syahrul selama bulan Januari 2008, yaitu dengan cara menghitung saldo rata-rata tertimbang dibagi dengan jumlah hari dalam bulan Januari:

                                 Tabel Perhitungan Saldo Rata-Rata Harian (SRRH)

Nomor

Tanggal

Hari

Saldo

Saldo Tertimbang

1

06 Jan  -  11 Jan

6

  2.000.000,00

 12.000.000,00

2

12 Jan  -  19 Jan

8

10.000.000,00

 80.000.000,00

3

20 Jan  -  26 Jan

7

15.000.000,00

105.000.000,00

4

27 Jan  -  31 Jan

5

12.000.000,00

  60.000.000,00

 

TOTAL

26

 

257.000.000,00

 

 

 

 

 

 

Jadi, saldo rata-rata harian (SRRH) dana Tuan Syahrul = Rp257.000.000,00 : 26 = Rp. 9.884.615,-

Setelah SRRH dihitung, maka berikutnya kita menghitung distribusi pendapatan, dengan

rumus:

 
 

DP = (SR/TR) x TP

 

 

 

 

Dimana  DP = distribusi pendapatan

               SR = saldo rata-rata tertimbang per klasifikasi dana

               TR = total rata-rata tertimbang per klasifikasi dana

                    TP = total pendapatan yang diterima periode berjalan oleh bank syariah

 

Berikut ini diberikan contoh perhitungan distribusi pendapatan bank syariah pada tahun 2008.

Saldo rata-rata harian:

1.  Simpanan mudharabah                  = Rp600.000.000,00    (10 %)

2.  Investasi mudharabah  01 bl          = Rp1.800.000.000,00 (30%)

3.  Investasi mudharabah  03 bl          = Rp1.200.000.000,00 (20%)

4.  Investasi mudharabah  06 bl          = Rp600.000.000,00    (10%)

5. Investasi mudharabah  12 bl           = Rp1.800.000.000,00 (30%)

Total saldo rata-rata harian                = Rp 6.000.000.000,00           (100%)

Total pendapatan Bank Syariah tahun 2008 = Rp200.000.000,00

 

Atas dasar data tersebut maka kita dapat menghitung distribusi pendapatan menurut klasifikasi dana sebagai berikut:

  1. Simpanan mudharabah           =  10 % X Rp200.000.000,00 = Rp20.000.000,00
  2. Investasi mudharabah  01       =  30%  X Rp200.000.000,00 = Rp60.000.000,00
  3. Investasi mudharabah 03         =  20%  X Rp200.000.000,00 = Rp40.000.000,00
  4. Investasi mudharabah 06        =  10%  X Rp200.000.000,00 = Rp20.000.000,00
  5. Investasi mudharabah 12        =  30% X  Rp200.000.000,00 = Rp60.000.000,00

                                                                                                TOTAL    = Rp200.000.000,00

 Dari total pendapatan yang didistribusikan sesuai dengan klasifikasi dana di atas yang berjumlah Rp200.000.000,00 maka kemudian jumlah ini akan dibagihasilkan kepada pemilik dana (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib) sesuai dengan nisbah bagi hasil yang telah disepakati pada awal akad.

 B.2. Nisbah atau Ratio Bagi Hasil

      Nisbah merupakan ratio atau porsi bagi hasil yang akan diterima oleh tiap-tiap pihak yang melakukan akad kerja sama usaha, yaitu pemilik dana (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib) yang tertuang dalam akad/perjanjian dan telah ditandatangani pada awal sebelum dilaksanakan kerja sama usaha. Apabila dalam akad diperjanjikan bahwa nisbah simpanan mudharabah adalah 40 : 60  maka bagi hasil yang didistribusikan kepada penabung/investor/nasabah adalah 60% dari distribusi pendapatan untuk klasifikasi simpanan mudharabah. Untuk contoh di atas maka nisbah untuk nasabah simpanan mudharabah = 60% X Rp20.000.000,00 = Rp12.000.000,00 sedangkan untuk bagian bank sebagai pengelola dana = 40% X Rp20.000.000,00 = Rp8.000.000,00

Apabila nisbah untuk investasi mudharabah 01 = 50 : 50 maka distribusi pendapatan untuk nasabah/investor = 50% X Rp60.000.000,00 =Rp30.000.000,00 sedangkan untuk bank adalah 50% X Rp60.000.000,00 = Rp30.000.000,00

Apabila nisbah untuk investasi mudharabah 03 = 40 : 60  maka distribusi pendapatan untuk nasabah / investor = 60% X Rp40.000.000,00 = Rp24.000.000,00 sedangkan untuk bank adalah 40%  X Rp40.000.000,00 = Rp16.000.000,00
Apabila nisbah untuk investasi mudharabah 06 = 30 : 70  maka distribusi pendapatan untuk nasabah/investor = 70% X Rp20.000.000,00 = Rp14.000.000,00 sedangkan untuk bank adalah 30%  X Rp20.000.000,00 = Rp6.000.000,00
Apabila nisbah untuk investasi mudharabah 12 = 25 : 75  maka distribusi pendapatan untuk nasabah/Investor = 75% X Rp60.000.000,00 = Rp45.000.000,00 sedangkan untuk bank adalah 25% X Rp60.000.000,00 = Rp15.000.000,00

Berapakah bagian bagi hasil untuk Tuan Syahrul pada contoh di atas bahwa dia mempunyai saldo rata-rata harian simpanan mudharabah sebesar Rp. 9.884.615,-

 (nsure untuk 1 periode), sementara total saldo rata-rata harian simpanan mudharabah pada tahun 2003 adalah Rp600.000.000,00 maka bagian bagi hasil Tuan Syahrul dihitung sebagai berikut:
Distribusi pendapatan Tn. Syahrul = (Rp. 9.884.615/ Rp600.000.000,00) X Rp 12.000.000,00 = Rp. 197.692,80 .

==============================================================================

=== Semoga bermanfaat, untuk lengkapnya dapat dibaca di buku MEMAHAMI AKUNTANSI SYARIAH DI INDONESIA, OLEH DR. SLAMET WIYONO. AK, MBA,SAS,CA. Apabila membutuhkan, kami dapat mengirim ke alamat Anda dengan harga Rp 90.000,- (harga baru) plus ongkos kirim. Pemesanan banyak mendapatkan diskon.==

 

MANAJEMEN WEBSITE

Email: slamet.wiy@gmail.com

Telpon 081285577937