Saleema Institute

FOR DEVELOPMENT OF ISLAMIC ACCOUNTING AND AUDITING (SIDIAA)

"Konsultansi dan Training Akuntansi, Audit, Keuangan, Perbankan, Leadership, Kinerja dan Bisnis Syariah"
ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR....ALHAMDULILLAH KITA SUDAH BISA MEMASUKI TAHUN BARU HIJRIYAH 1439 H...SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH, 1 MUHARRAM 1439H, MARI KITA BERMUHASABAH APA YANG TELAH KITA LAKUKAN PADA TH 1438 H DAN MARI KITA NIATKAN UNTUK MENINGKATKAN AMAL USAHA DAN IBADAH KITA DI TAHUN 1439 H, SEHINGGA SEMAKIN MENINGKAT IMAN, TAQWA, AMAL SHALEH DEMI KEJAYAAN KITA DI DUNIA DAN AKHIRAT NANTI, AAMIIN YA RABBIL 'ALAMIIN..

Bab 6 Akuntansi Murabahah


AKUNTANSI TRANSAKSI MURABAHAH

 

Pada bab ini, Anda akan mempelajari tentang:

Pengakuan, Pengukuran, Penyajian dan Pengungkapan atas transaksi Murabahah, baik ditinjau dari sisi penjual maupun pembeli.

BAB VI

AKUNTANSI  TRANSAKSI MURABAHAH

 

Pengakuan , Pengukuran, dan Penyajian Piutang - Hutang Murabahah 

                           Seperti telah dibahas pada bab sebelumnya, murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.  Dalam murabahah, bank syariah dapat bertindak sebagai penjual dan juga pembeli. Sebagai penjual apabila bank syariah menjual barang kepada nasabah, sedangkan sebagai pembeli apabila bank syariah membeli barang kepada supplier untuk dijual kepada nasabah.   

 

               I. AKUNTANSI UNTUK PENJUAL

Pengakuan dan pengukuran murabahah telah diatur oleh PSAK No. 102 (2007), sebagai berikut.

a). Pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persediaan sebesar biaya perolehan.

     Dalam transaksi ini entitas syariah akan mencatat, yakni sebagai berikut.

Tgl

Persediaan  murabahah

 

Rp. xx

-

 

Kas/ rekening supplier

 

-

Rp.xx

 

b). Pengukuran Persediaan murabahah setelah perolehan, adalah sebagai berikut.

1).  Aktiva tersedia untuk dijual dalam murabahah pesanan mengikat

(a)    dinilai sebesar biaya perolehan, dan

(b)   jika terjadi penurunan nilai aktiva karena usang, rusak, atau kondisi lainnya, penurunan nilai tersebut diakui sebagai beban dan mengurangi nilai aset.

            Dalam hal terjadi penurunan nilai maka akan dicatat, yakni sebagai berikut:

Tgl

Beban penurunan nilai

 

Rp. xx

 

 

Persediaan murabahah

 

-

Rp.xx

 

           Kerugian penurunan  dilaporkan di laporan laba rugi sebagai beban lain-lain dan Persediaan murabahah akan berkurang sebesar nilai kerugian tersebut.

2). Apabila dalam murabahah tanpa pesanan atau murabahah pesanan tidak mengikat  maka :

(a). dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasikan, mana yang lebih rendah, dan

     (b). jika nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan maka selisihnya diakui sebagai kerugian. Dalam hal ini entitas akan mencatat pengakuan kerugian , yakni  sebagai berikut:

 

Tgl

Kerugian penurunan nilai persediaan murabahah

 

Rp. xx

      --

 

Cadangan penurunan nilai Persediaan murabahah

 

-

Rp.xx

 

c). Diskon / Potongan pembeliandari pemasok diakui sebagai: (1) pengurang biaya perolehan   aset murabahah, jika terjadi sebelum akad murabahah; (2) kewajiban kepada pembeli, jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang disepakati menjadi hak pembeli; (3) tambahan keuntungan murabahah, jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad menjadi hak penjual; atau (4)  pendapatan operasi lain, jika terjadi setelah akad murabahah dan tidak diperjanjikan dalam akad.

d). Pada saat akad murabahah,  piutang murabahah diakui sebesar biaya perolehan aset  murabahah ditambah keuntungan yang disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan piutang murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu saldo piutang dikurangi penyisihan kerugian piutang.

e). Keuntungan murabahah diakui:

(1) pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan secara tunai atau secara tangguh yang tidak melebihi satu tahun; atau

Pada waktu akad, bank syariah akan mencatat sebagai berikut:

Tgl

Kas/Piutang murabahah

 

Rp.xx

--

 

    Persediaan murabahah

 

-

Rp.xx

 

    Pendapatan Margin murabahah

 

-

 

Rp. xx

 (2) selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun.  Metode – metode berikut ini digunakan , dan dipilih yang paling sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-nya:

      (i) Keuntungan diakui saat penyerahan asset murabahah. Metode ini terapan untuk murabahah tangguh dimana risiko penagihan kas dari piutang murabahah dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya relative kecil.

Untuk itu, keuntungan akan dicatat dalam jurnal sebagai berikut:

 

Tgl

Piutang murabahah

 

Rp.xx

--

 

    Persediaan murabahah

 

-

Rp.xx

 

    Pendapatan Margin murabahah

 

-

 

Rp. xx

 

      (ii) Keuntungan diakui proporsional dengan besaran kas yang berhasil ditagih dari piutang murabahah. Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih relative besar dan/atau beban  untuk mengelola dan menagih piutang tersebut relative besar juga.

Untuk itu, jurnal yang harus dibuat saat penyerahan asset murabahah dan pengakuan keuntungan margin murabahah adalah sebagai berikut:

Pada saat penyerahan asset murabahah:

Tgl

Piutang murabahah

 

Rp.xx

--

 

    Persediaan murabahah

 

-

Rp.xx

 

    Margin murabahah tangguhan

 

-

Rp. xx

 Pada saat menerima pelunasan piutang murabahah dan mengakui keuntungan murabahah secara proporsional dengan kas yang diterimanya:

Tgl

K a s

Margin murabahah tangguhan

     Piutang murabahah

     Pendapatan Margin Murabahah

 

Rp.xx

Rp.xx

--

--

Rp xx

Rp xx

 

 

 

 

 

            (iii) Keuntungan diakui saat seluruh  piutang murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya cukup besar. Dalam praktek, metode ini jarang dipakai, karena transaksi murabahah tangguh mungkin tidak terjadi bila tidak ada kepastian yang memadai akan penagihan kasnya.

Untuk metode ini, jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

Pada saat penyerahan asset murabahah:

Tgl

Piutang murabahah

 

Rp.xx

--

 

   Persediaan murabahah

 

-

Rp.xx

 

   Margin murabahah tangguhan

 

-

Rp. xx

  1. Pada saat menerima pelunasan piutang murabahah secara keseluruhan dan mengakui keuntungan murabahah :

Tgl

K a s

Margin murabahah tangguhan

     Piutang murabahah

     Pendapatan Margin Murabahah

 

Rp.xx

Rp.xx

--

--

Rp xx

Rp xx

 

 

 

 

 

 

Pengakuan keuntungan dilakukan secara proporsional atas jumlah piutang yang berhasil ditagih dengan mengalikan presentase keuntungan terhadap jumlah piutang yang berhasil ditagih. Persentase keuntungan dihitung dengan perbandingan antara margin dan biaya perolehan asset murabahah.

Berikut ini contoh perhitungan keuntungan secara proporsional untuk suatu transaksi murabahah dengan biaya perolehan asset (pokok) Rp 800,00 dan keuntungan Rp 200,00; serta pembayaran dilakukan secara angsuran selama 3 tahun; dimana jumlah angsuran, pokok dan keuntungan yang diakui setiap tahun adalah sebagai berikut:

 

Tahun

Angsuran (Rp)

Pokok (Rp)

Keuntungan (Rp)

1

500,00

400.00

100,00

2

300,00

240,00

 60,00

3

200,00

160,00

 40,00

Berdasarkan contoh sederhana ini, maka jumlah piutang murabahah adalah Rp 1.000,00, yaitu pokok Rp 800,00 ditambah keuntungan Rp 200,00. Tingkat keuntungan adalah (Rp 200,00 / Rp 1.000,00 ) x 100% = 20%. Keuntungan yang diakui adalah proporsional terhadap piutang yang berhasil ditagih. Apabila piutang yang berhasil diatagih (sebagai angsuran) adalah Rp 500,00, maka keuntungan yang diakui adalah 20% X Rp 500,00 = Rp 100,00. Apabila piutang yang berhasil diatagih (sebagai angsuran) adalah Rp 300,00, maka keuntungan yang diakui adalah 20% X Rp 300,00 = Rp 60,00. Dan apabila piutang yang berhasil diatagih (sebagai angsuran) adalah Rp 200,00, maka keuntungan yang diakui adalah 20% X Rp 200,00 = Rp 40,00.

Apabila akad murabahah lebih dari satu periode akuntansi maka pada akhir periode bank syariah akan mengakui penyisihan kerugian piutang, yakni sebagai berikut:

Tgl

Kerugian piutang murabahah

 

Rp. xx

 

 

Penyisihan kerugian piutang murabahah

 

-

Rp.xx

 

Piutang murabahah akan disajikan di neraca, yakni sebagai berikut:

Piutang murabahah                                  Rp  xx

Margin murabahah tangguhan                    Rp  xx   (-)

                  Piutang murabahah bersih       Rp xx

Penyisian kerugian piutang murabahah        Rp  xx    (-)

Nilai bersih yang dapat direalisasikan         Rp  xx

 

f). Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada pembeli yang melunasi secara tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang disepakati diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah.

g). Potongan angsuran murabahah diakuti sebagai berikut:

(a) Jika disebabkan oleh pembeli yang membayar secara tepat waktu,  maka diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah. Jurnal yang harus dibuat yakni:

   a) pada saat pengakuan keuntungan murabahah :

Tgl

Margin  murabahah tangguhan

 

Rp. xx

--

 

Pendapatan Margin murabahah

 

-

Rp.xx

 

   b) pada saat menerima pelunasan dan mengakui potongan angsuran sebagai pengurang keuntungan murabahah:

 

Tgl

Kas

 

Rp. xx

-

 

Pendapatan margin murabahah

 

Rp. xx

-

 

    Piutang murabahah

 

 

-

Rp.xx

 

(b) jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran pembeli, maka diakui sebagai beban.

Untuk kasus potongan pelunasan dini, entitas akan  mencatat pengakuan pada saat penyelesaian dengan jurnal, yakni:

a)      pada saat pengakuan keuntungan murabahah:

Tgl

Margin  murabahah tangguhan

 

Rp. xx

-

 

Pendapatan Margin murabahah

 

 

-

 

Rp.xx

 

b)      pada saat menerima pelunasan:

 

Tgl.

Kas/Rekening nasabah

Beban lain-lain – potongan angsuran murabahah

   Piutang Murabahah

  

 

Rp  xx

Rp xx 

 

     --

     --

 

Rp xx

 

 

 

 

 

 

 h). Denda dikenakan apabila pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai dengan akad, dan denda yang diterima diakui sebagai bagian dana kebajikan (qardhul hasan). Pada saat diterima denda diakui sebagai bagian dana sosial dan pada saat menerima denda entitas akan mengakui adanya penambahan sumber dana kebajikan (al-qardhul hasan).

      Jurnal yang dibuat untuk mencatat denda:

Tgl

Kas/Rekening pembeli

 

Rp. xx

-

 

      Rekening simpanan wadiah-

      dana kebajikan (qardhul

      hasan)

 

 

 

     --

 

 

Rp xx

 

 

 

 

 

 

i).Uang muka (penulis:Urbun)

      Pengakuan dan pengukuran Uang Muka dalah sebagai berikut.

1)      Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima;

2)      Jika  barang jadi dibeli oleh pembeli,  maka uang muka diakui sebagai pembayaran piutang (merupakan bagian pokok);

3)      Jika barang batal dibeli oleh pembeli,  maka uang muka dikembalikan kepada pembeli setelah diperhitungkan dengan biaya-biayayang telah dikeluarkan oleh penjual.

Atas uang muka tersebut di atas, penjual  akan membuat pencatatan, yakni

a). pada saat menerima uang muka, jurnal yang dibuat:

 

Tgl

Kas/rekening pembeli

 

Rp. xx

-

 

  Kewajiban lain-uang muka           murabahah

 

 

-

 

Rp.xx

 

b). pada saat barang dibeli oleh pembeli, jurnal yang dibuat:

 

Tgl

Piutang murabahah

 

Rp. xx

-

 

    Margin murabahah tangguhan

 

        -

Rp.xx

 

Persediaan  murabahah

 

        -

Rp. Xx

Tgl

Kewajiban lain-uang muka  murabahah (urbun)

 

Rp. xx

-

 

    Piutang murabahah

 

-

Rp.xx

 

c)    jika pembeli batal membeli barang maka penjual akan mencatat pengembalian uang muka setelah dipotong biaya administrasi:

Tgl

Kewajiban Lain-Uang muka  murabahah (urbun)

 

Rp. xx

-

 

    Pendapatan lain-lain

 

-

Rp.xx

 

    Kas/ rekening pembeli

 

-

Rp. xx

      Uang Muka murabahah di akui sebagai bagian dari kewajiban/utang di neraca, apabila sudah terjadi akad murabahah maka utang tersebut akan menjadi nol dan piutang murabahah akan dikurangi sebesar uang muka  tersebut.

 1. 2  Aplikasi Transaksi  Berdasarkan Prinsip Jual-Beli (Murabahah)

Murabahah  adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Penjual harus memberitahu harga produk yang dibeli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.

 Murabahah bisa dilakukan oleh perusahaan trading yang melakukan aktivitas bisnisnya dengan cara membeli barang, kemudian menjual kembali tanpa melakukan perubahan barang tersebut. Bank syariah dapat mengadopsi transaksi ini, kaitannya dengan kebutuhan nasabah untuk memiliki barang tertentu, tetapi tidak cukup memiliki dana, sehingga bank syariah bisa memenuhi kebutuhan nasabah dengan skim Bai’ al-murabahah. Mekanisme transaksi ini, bank syariah melakukan akad dengan nasabah kemudian bank syariah membeli barang yang dibutuhkan oleh nasabah kepada supplier secara tunai, setelah itu bank syariah menjual kepada nasabah dengan pembayaran angsuran.

  1.3 Cara Penentuan Angsuran dalam Bai’ Al-murabahah

               Dalam bai’ al-murabahah, syariah memperbolehkan bank untuk mengambil keuntungan/laba atas transaksi tersebut. Dalam menentukan keuntungan ada beberapa cara, yakni sebagai berikut.(Wiyono, 2006).

 a).  Bank menentukan keuntungan dari jumlah dana yang dipinjam oleh nasabah untuk membeli barang ke bank tersebut sebesar yang disepekati ke dua belah pihak, misalnya 20% dari pokok pinjaman. Apabila yang ditambahkan adalah 2 x keuntungan per tahun (20%)  maka hasilnya sama dengan 40%. Cara seperti ini memepunyai kelemahan, kalau dibayar lebih dari  satu tahun maka keuntungannya ditambah sebesar keuntungan  satu tahun dikalikan dengan jumlah tahun, hal ini  seolah-olah sebagai “tambahan karena meminjami” yang ditentukan di muka, sehingga mengarah kepada riba. Seandainya hal ini dengan alasan untuk menstabilkan “daya beli” uang yang dipinjamkan bank mestinya presentase yang ditambahkan adalah sebesar estimasi “inflasi” yang akan datang atau dikurangi sebesar estimasi deflasi seandainya terjadi.

 Rumus harga jual (cara pertama):

 Harga jual = harga pokok aktiva murabahah (jumlah pembiayaan) + ( markup atau  laba  x n tahun)

 b). Atas dasar dana yang dipinjam oleh nasabah, bank syariah menerapkan keuntungan transaksi misal 20%, kemudian kalau dibayar satu atau dua tahun maka untuk menstabilkan daya beli uang tersebut bank syariah dapat menambahkan sejumlah 2x inflasi dua tahun yang akan datang. Misal, diperkirakan inflasi 5% per tahun maka faktor stabilizer daya beli untuk dua tahun = 2 X 5 % = 10%. Jadi, selama 2 tahun nasabah mengangsur pokok pinjaman  ditambah keuntungan dan inflasi, yaitu 10% + 20% = 30%.

 Rumus harga jual (cara kedua):

Harga jual = harga pokok aktiva murabahah (jumlah pembiayaan) + (inflasi x n ) tahun + markup  atau  laba sekali

 c). Dalam penentuan harga jual bank, bank dapat menerapkan metode penetapan harga jual berdasarkan cost plus markup. Dengan metode cost plus, harga jual dapat dihitung dengan rumus, adalah sebagai berikut.

Rumus harga jual (cara ketiga):

Harga jual = harga pokok aktiva murabahah(jumlah pembiayaan) + cost recovary + markup atau  laba sekali

 

Cost recovary adalah bagian dari estimasi biaya operasi bank syariah yang dibebankan kepada harga pokok aktiva murabahah/pembiayaan.

Rumus perhitungan cost recovary :

Cost recovary  = (harga pokok aktiva murabahah atau pembiayaan / estimasi total pembiayaan ) x estimasi biaya operasi 1 tahun

 Markup/laba ditentukan sekian persen dari harga pokok aktiva murabahah/ pembiayaan, misalnya 10%. Untuk menghitung marginmurabahah maka kita dapat menghitung dengan rumus:

 Margin murabahah = (cost recovary + markup ) / harga pokok aktiva murabahah (pembiayaan)

Contoh:

Tuan Karwi berminat untuk memiliki sebuah mobil untuk kepentingan usaha antar jemput anak sekolah. Mobil tersebut mempunyai harga perolehan ( harga beli + biaya balik nama  dan biaya lain-lain) sebesar Rp 150.000.000,00. Pada saat ini Tuan Karwi hanya memiliki dana  Rp 50.000.000,00 untuk mengatasi kekurangan dana tersebut Tuan Karwi menghubungi bank syariah  untuk mendapatkan pemecahan masalah akibat kekurangan dana tersebut, bank syariah menawarkan  solusi dengan akad bai’ al-murabahah,  yakni,

1). Cara pertama, bank syariah menetapkan dengan tingkat laba atas penjualan yang disepakati sebesar  10%, apabila dibayar dalam jangka dua tahun maka bank syariah akan menambahkan keuntungan lagi sebesar 10%,  sehingga margin selama dua tahun = 20 %.

2). Cara kedua, bank syariah menetapkan keuntungan tahun pertama 10% dan  faktor stabilizer nilai beli uang yang dipinjamkan untuk 2 tahun  sebesar 2 x inflasi Indonesia (misal 5% x 2 tahun  = 10%), sehingga margin selama dua tahun = 10% + 10% = 20 %.

3). Cara ketiga, bank syariah memperkirakan biaya operasi Rp200.000.000,00 dalam 1 tahun, perkiraan jumlah pembiayaan Rp5.000.000.000,00 dan markup yang ditentukan (hanya sekali saja) 10% dari pembiayaan murabahah.

 

Berapa besar angsuran yang harus dibayar oleh Tuan Karwi setiap bulannya ?

 Jawab

Berikut ini perhitungan angsuran per bulan oleh bank syariah:

Cara pertama

Harga Pokok Mobil                             Rp150.000.000,00

Dibayar nasabah (uang.muka) Rp  50.000.000,00

Dibayar oleh Bank                              Rp 100.000.000,00

Margin Laba Bank      = 2X10% x Rp100.000.000,00 = Rp20.000.000,00

Harga Jual Bank = Rp100.000.000,00 + Rp20.000.000,00 = Rp120.000.000,00

Perhitungan Angsuran:

Harga Pokok               =Rp150.000.000,00

Margin Murabahah     =Rp  20.000.000,00

Harga jual Bank          = Rp170.000.000,00

Pembayaran pertama   = Rp 50.000.000,00

Sisa angsuran              = Rp120.000.000,00

Angsuran perbulan = Rp120.000.000,00 / 24 bulan   = Rp5.000.000,00 per bulan

 Cara kedua

Harga Pokok Mobil                          Rp150.000.000,00

Dibayar nasabah (uang.muka)          Rp  50.000.000,00

Dibayar oleh Bank                          Rp 100.000.000,00

 

Margin Laba Bank      = 10% x Rp100.000.000,00                     = Rp10.000.000,00

Stabiliser daya beli      = 2 tahun x 5% x Rp100.000.000,00      = Rp10.000.000,00

Margin laba + Stabiliser daya beli                                         = Rp20.000.000,00

 

Perhitungan Angsuran:

Harga Pokok               =Rp150.000.000,00

Laba dan Inflasi          =Rp  20.000.000,00

Harga jual Bank          = Rp170.000.000,00

Pembayaran pertama   = Rp 50.000.000,00

Sisa angsuran              = Rp120.000.000,00

Angsuran perbulan = Rp120.000.000,00 / 24 bulan   = Rp5.000.000,00 per bulan

 Cara ketiga

Hitung dulu cost recovery:

cost recovary = (pembiayaan murabahah / estimasi total pembiayaan ) x estimasi biaya operasi

=(Rp100.000.000,00 / Rp5.000.000.000,00) X Rp200.000.000,00 = Rp4.000.000,00

Hitung markup = 10% X pembiayaan (Rp100.000.000,00) = Rp10.000.000,00

Harga jual bank = pembiayaan + cost recovary + markup

= Rp100.000.000,00 + (2 X cost recovary Rp4.000.000,00 =Rp8.000.000,00) + Rp10.000.000,00 = Rp118.000.000,00

Angsuran per bulan = Rp118.000.000,00 / 24 = Rp 4.9166.667,-

Total harga jual aktiva murabahah = Rp150.000.000,00 + Rp18.000.000,00 = Rp168.000.000,00

====

Untuk materi lengkapnya, dapat dipelajari di buku 'Memahami Akuntansi Syariah di Indonesia' ditulis oleh Dr. Slamet Wiyono, Ak, MBA,SAS. Buku dapat dibeli di toko Gramedia seluruh Indonesia, dengan harga Rp 90.000,--. Bila menginginkan pembelian langsung ke penulis dan minta dikirim langsung, maka ditambah ongkos kirim sesuai tarif alamat Anda. Untuk pembelian dalam jumlah banyak, akan diberikan diskon.

Terima kasih telah mengungjungi website kami, semoga bermanfaat untuk menyongsong hari esok yang lebih baik. Aamiin ya rabbal 'alamiin.

 

MANAJEMEN WEBSITE

Telpon 0812 855 77 937; 0813 800 88 158; email: slamet.wiy@gmail.com  

 

 

<span style="